Dilansirdari laman kurikulum.kemdikbud.go.id, Kurikulum Merdeka dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik. Karakteristik utama dari kurikulum ini yang mendukung pemulihan pembelajaran adalah: 1) Pembelajaran berbasis projek untuk APAITU MERDEKA BELAJAR??? Belajar secara menyeluruh, secara holistik, satu sama lain saling mengisi serta dibutuhkan - Siap tidak siap, kita harus mampu menguasai teknologi yang ada disekitar kita Apakah sekolah sudah memanfaatkan media berbasis digital? Efektifitas media pembelajaran berbasis digital? Tanggapan peserta didik? Jakarta CNBC Indonesia - Sebuah bangsa baru lahir ke dunia. Bangsa yang awalnya dikenal sebagai Hindia Belanda, resmi mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Pendiri bangsa ingin agar tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk mengantar rakyat menuju kedaulatan, keadilan dan kemakmuran. 75 tahun sudah Indonesia Negarakita sudah merdeka, sejak tanggal 17 Agustus 1945. Sudah 76 tahun Indonesia merdeka. PROKLAMASI Setelah disepakati, bahwa proklamasi kemerdekaan diumumkan pada tanggal 17 Agustus. Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Awalnya proklamasi akan dibacakan di Lapangan Ikada. Tetapi pasukan Jepang terus berpatroli di Untukitulah Kemendikbudristek mengembangkan Kurikulum Merdeka sebagai bagian penting dalam upaya memulihkan pembelajaran dari krisis yang sudah lama kita alami. Selain itu, terdapat beberapa konsep khusus yang menjadi ciri dari kurikulum merdeka belajar, seperti berikut ini: Asesmen Kompetensi Minimum Ibandi “Kenapa? Kita sahabat bud, kita harus kerjasama” Ajimin : Ya sudah sekarang kita kembali ke rumah masing-masing dan bertemu menjeang malam di pinggir hutan sebelah barat. Ini tanah air kita, mati atau hidup, harus kita pertahankan. Merdeka! Tamat. 11. Contoh Naskah Drama Komedi OVJ 3 Orang. si Tuli, si Bisu dan Si Buta . Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Apakah kita sudah Merdeka? Ya kita sudah Merdeka !!! kata pemuda yang mendengar teks Proklamasi, yang telah dibacakan oleh Bung Karno. Kata-kata “ Merdeka “ sangat tepat pada saat itu, tanggal 17 Agustus 1945, yang terbebas dari belenggu penjajah. Akan tetapi pantaskah kita “Merdeka” di masa sekarang sejak Pasca Kejatuhan Bung Karno akibat Kudeta yang dijalankan oleh Orde Baru dengan Kedok sebagai Penyelamat Bangsa dan sebagai Pemberantas PKI. sedangkan Bung Karno dianggap terlibat. dan juga 11 pemuda sebagai pengikut setia dan semua pemeran utama dari para pemuda yang gagah berani dan berjuang tanpa pamrih dilenyapkan. Ada yang dibuang ada yang ditahan dan sebagainya. Apakah sah pemerintahan yang berasal dari Kudeta dengan menggulingkan Bung Karno sebagai Pemerintahan yang Sah secara Konstitutional ,dan Sah dimata para pemuda yang bersusah-payah, berjuang tanpa pamrih, berkorban dengan jiwa, banjir darah dan sebagainya, dan dimata rakyat Indonesia yang menghendaki kemerdekaan , kehendak rakyat juga kehendak Tuhan yang menghendaki perdamaian, otomatis Sah dimata Tuhan dan diberkahi pada masa pemerintahan Bung Karno. Maka pada saat ini tidak heran Negara kita semakin hancur, karena berasal dari kehendak Kebiadaban dan Kekejaman terhadap Bung Karno dan para pejuang yang dianggap dalang PKI. Ironis sekali, pemerintahan yang berasal dari Kudeta ini justru telah berjalan hingga kini tanpa merasa tidak berdosa. bersenang-senang di atas penderitaan rakyat , justru bersenang-senang di atas jasa dan pengorbanan serta penderitaan dari para pendiri, para pahlawan, dan para pejuang 45, mereka menangis di alam semakin hancur, berapa juta rakyat kelaparan, berapa juta rakyat miskin...makin hancurnya moral bangsa...berapa juta rakyat yang diinjak injak oleh bangsanya sendiri, Mari kita bersama-sama. Kita buka lembaran baru, kita bersama-sama mengembalikan suatu pemerintahan yang sah yang berasal dari para pejuang yang berjuang tanpa pamrih, yang murni dari rakyat tertindas oleh para penjajah dimasa perjuangan dan masa kini. Kita kembalikan kehendak Tuhan yang kita merdeka oleh peranan pemuda. Sekarang kita harus kembali “ back to Basic ” di tempat ini pula perjuangan pemuda berhasil mewujudkan kemerdekaan. Mari kita merenungkan dan mengingat kembali masa perjuangan 45, yang dilakukan oleh 11 Pemuda dari " Laskar Rakyat ". Laskar Rakyat merupakan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Dari merekalah negara kita lahir secara terhormat, bukan hadiah dari Jepang, bukan hadiah dari Belanda atau tentara sekutu. Mereka berjuang tanpa pamrih, yang ada dibenaknya hanya 2 kata "Merdeka" atau "Mati". Tanpa mereka 11 Pemuda Laskar Rakyat yang mewakili para pemuda yang berjuang dengan gagah berani , mungkin negara kita menjadi negara Boneka bentukan dari Bangsa Kapitalis Zionis. ..mungkin negara kita dijajah kembali oleh Penjajah. Tanpa mereka,.. mungkin kita tidak punya Tentara Nasional Indonesia. Tanpa mereka …mungkin tidak ada MPR , DPR, Pancasila dan UUD 45. dan Karno menyatakan “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Dari merekalah maka Bung Karno berani tampil memimpin Dunia. Dari merekalah Bung Karno berani memproklamirkan Kemerdekaan yang tidak pernah diketahui oleh generasi pemuda kita di masa kini, sehingga Jiwa Nasionalis generasi bangsa kita tidak terlihat sama sekali, yang pada akhirnya semakin hancurnya negara kita. Sejarah telah membuktikan bahwa peranan para pemuda-pemudi sangat penting dan wajib digaris bawahi dengan tinta emas, sebab ditangan pemudalah negara kita akan kembali menjadi negara yang terhormat dan bermartabat, jika para pemudanya memiliki jiwa nasionalis, cinta tanah air, kebanggaan terhadap para Pendiri NKRI dan para Pejuang 45, dan Api Semangat Revolusi 17 Agustus di tahun 2013, di tempat ini Gedung Juang, kita kembali mengambil " Api Semangat Revolusi 17 Agustus 1945" yang telah padam semenjak Jatuhnya Bung Karno dan tiadanya lagi 11 Pemuda. Marilah kita mengingat kembali Peristiwa Rengas Dengklok yang dipelopori oleh 11 Pemuda dengan “Aksi Revolusi”, yaitu 1. bung . Hanafi2. bung Chaerul Saleh 3. bung Sukarni4. bung ADAM MALIK5. bung Sidik Kertapati6. BUNG PANDU KERTAWIGUNA7. bung Darwis8. bung yUSUF Kunto9. bung Djohar Nur10. bung MARUTO11. bung WikanaPada tanggal 15 Agustus 1945 pasca penjatuhan bom atom yang sangat dahsyat diHiroshima dan Nagasaki yang meratakan ke dua kota industri Jepang itu dengan tanah, Maha Kaisar Hirohito Tenno Heika telah memutuskan Jepang menyerah Tenno Heika berkumandang di medan perang Asia dan Samudra Pasifik, dan oleh karena Tenno Heika adalah pemegang kekuasaan absolut di Jepang yang dipercaya sebagai Anak Matahari, maka balatentara Jepang tunduk kepada perintah penyerahan tanpa syarat penguasa perang di Jakarta melarang Kantor Berita Domei menyiarkan berita penyerahan tersebut, bahwa banyak warga Jakarta terutama para Pemuda Revolusioner telah mendengar desas-desus tentang peristiwa sangat penting tersebut, malah beberapa hari malam di pertengahan Agustus 1945. Sekelompok 11 pemuda mendatangi kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Bung Karno, yang sudah mengetahui kedatangan utusan pemuda ini, segera menemui mereka di beranda rumah. ” Sekarang Bung, sekarang! malam ini juga kita kobarkan revolusi !” kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan Bung Karno bahwa ribuan pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. ” Kita harus segera merebut kekuasaan !” tukas Sukarni berapi-api. ” Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami !” seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan; ” Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari .”Pemuda asal Sumedang, Jawa Barat, itu melangkah dengan sebilah pisau terjulur di tangannya. “Revolusi di tangan kami sekarang dan kami memerintah Bung. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, maka…”“Maka apa?” teriak Bung Karno yang bangkit dari kursinya. “”Ini batang leherku,” katanya setengah berteriak sambil mendekati Wikana. “Seret saya ke pojok itu dan potong malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!” kata Bung Karno dengan setengah kemudian memperingatkan Wikana; "...Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri?Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu?"Namun, para pemuda terus mendesak; "apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri telah menyerah dan telah takluk dalam 'Perang Sucinya'!". "Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memprokla­masikan kemerdekaannya?Mengapa bukan kita yang menyata­kan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa?". Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata; "...kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang! Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya? Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu?Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak?Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan?Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri". Demikian jawab Bung Karno dengan tenang. Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa usul para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan timbulnya banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda nampak tidak puas. Mereka mengambil kesimpulan yang menyimpang; mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh itu dari pengaruh dinihari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi "Pengamanan" bukan "Penculikan" itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi 198460. Bung Karno marah dan kecewa, terutama karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, ia ikut itu terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945. Pagi-pagi buta, sekitar pukul WIB, sekelompok 11 pemuda revolusioner membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Di sana Bung Karno, Bung Hatta, dan pemuda merundingkan Proklamasi perundingan sengit di antara Pemuda Revolusioner dengan Soekarno dan Hatta. Soekarno melihat para Pemuda Revolusioner yang gagah, tampan dan air muka mereka yang tidak mengenal takut, dan Soekarno tahu betul bahwa Pemuda Revolusioner ini sangat mencintai berbicara sungguh-sungguh persetujuannya untuk memproklamasikan Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 tetapi Proklamasi dibuat dan diumumkan di Revolusioner mulanya sangsi terhadap janji Soekarno, tetapi Ahmad Subardjo Djojoadisuryo, SH menjamin dengan taruhan kepalanya dipancung bila Proklamasi gagal pada 17 Agustus 1945, maka para Pemuda Revolusioner jam malam berangkatlah Soekarno dan Hatta ke Jakarta dengan pengawalan dari Pemuda Revolusioner dan balatentara Republik Indonesia mantan Peta.Bung Karno menginginkan Proklamasi Kemerdekaan tetap melalui jalur aman, yakni PPKI Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, demi menghindari pertumpahan darah dan jatuhnya korban di kalangan rakyat Indonesia. Sedangkan pemuda menghendaki jalur aksi revolusi, yakni proklamasi kemerdekaan di tengah-tengah massa akhirnya dengan perjalanan cukup menegangkan Proklamasi Kemerdekaan dilakukan tanggal 17 Agustus 1945 di kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Proklamasi itu dibacakan oleh Bung Karno atas nama Bangsa Indonesia. Bukan oleh PPKI—sesuai dengan keinginan 11 berkat tekanan keras dari Pemuda Revolusioner, sikap ragu-ragu dari Soekarno dan Hatta berhasil dicairkan dan pada malam tanggal 17 Agustus 1945 diselesaikanlah Naskah Proklamasi di rumah Laksamana Maeda di Oranje Nassauboulevard, Jakarta, dan pada 17 Agustus 1945 Proklamasi yang telah ditandatangani Soekarno dan Hatta atas nama Bangsa seluruh Rakyat Indonesia dan diucapkan oleh Soekarno di hadapan Rakyat dan Pemuda Revolusioner, dan terwujudlah Kemerdekaan Bangsa Proklamasi Kemerdekaan ini berlangsung sangat tegang, dramatis, dan dalam tempo kilat. Tanggal 15 Agustus 1945, amanat Tenno Heika tentang penyerahan Jepang ke pihak Sekutu, sebelumnya tanggal 15 Agustus 1945 saat kembalinya Soekarno dan Hatta dari Saigon, disusul tanggal 16 Agustus 1945 saat diculiknya Soekarno dan Hatta oleh Pemuda Revolusioner, dan disusul tanggal 17 Agustus 1945 sungguh proses yang berlangsung kilat dan yang berhasil maksimal. Oleh karena itu betapa vitalnya peran Desa Rengasdengklok dan tanggal 16 Agustus 1945 dalam perjalanan Perjuangan Besar Revolusi Besar Bangsa cemerlangnya perjuangan gagah berani dari para Pemuda Revolusioner Indonesia yang mendorong Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Suatu tekad yang tidak takut mati dan risiko apapun oleh karena para Pemuda Revolusinya sangat tahu kekuatan balatentara Jepang yang haus darah yang menjadi tantangan kemudian Menteng 31 Jakarta adalah tiang utama perjalanan Perjuangan Besar Pemuda Revolusioner, dan karena Proklamasi ditekan dengan sangat keras di Rengasdengklok, maka posisi Rengasdengklok bukan semata tiang Perjuangan Para Pemuda Revolusioner, tetapi tiang utama Revolusi Proklamasi Kemerdekaan terutama setelah Pengakuan Kedaulatan Bangsa Indonesia ternyata yang dibesar-besarkan adalah Jakarta, dalam hal ini Istana Kepresiden Republik Indonesia. Para pemimpin besar Indonesia termasuk Soekarno dan Hatta dengan sadar atau dengan tidak sadar telah sedemikian rupa melupakan dalam upacara kenegaraan, maupun dalam buku sejarah yang beredar, bahwa peran Rengasdengklok terkesan dilecehkan yang berakibat baik Generasi Tua mau pun Generasi Muda Indonesia tidak memahami peran kawasan Rengasdengklok termasuk Cakung, Jakarta Timur, Karawang, dan Purwakarta dalam awal peledakan Revolusi Besar Bangsa melecehkan peran menentukan dari Desa-desa Indonesia serta penyakit elitisme, aristokratisme, serta penyakit membesar-besarkan berlebih-lebihan kehebatan Barat Eropa Barat dan Amerika Serikat ternyata gagal dikendalikan oleh Soekarno dan tersentak pasca terjadinya G 30 S tentang betapa keroposnya persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia dan betapa mudahnya sesama Rakyat Indonesia gontok-gontokan. Soekarno berteriak Jangan sekali-kali meninggalkan Sejarah! Tetapi sejarah gilang-gemilang Bangsa Indonesia telah sedemikian rupa dilecehkan oleh elit ini berakibat sangat jauh di mana kepribadian Bangsa Indonesia hilang secara sistematis. Bila kepribadian dari satu bangsa hilang, maka ia akan lemah dan mudah dibodoh-bodohi dan dihancurkan oleh pihak yang tidak beruntung bila bangsa dimaksud menjadi kuat, dan pada sisi lain para elit Indonesia menjadi pencoleng, pencopet, dan perampok uang harapan yang kelihatannya sangat sulit diwujudkan oleh pemimpin Bangsa Indonesia saat ini, agar kepribadian Bangsa Indonesia dibangun secara sistematis dengan meninggalkan sikap kebarat-baratan. Kembalilah ke basis dan ke akar kepribadian Bangsa Indonesia yang penuh kegagah-beranian dan rasa percaya diri yang sangat Perjuangan Pemuda Revolusioner, dan seluruh Pejuang, serta Rakyat Indonesia sungguh sulit dicarikan bandingannya. Jangan sekali-kali Meninggalkan Sejarah!Di tempat yang sakral ini, photo-photo para pemuda Laskar Rakyat terpampang di dinding gedung Juang ini,dan benda-benda lainnya sebagai Saksi Bisu . Momentum ini sangat ditunggu-ditunggu oleh mereka yang berada di alam sana yang menghendaki perdamaian yang sah dari Tuhan dengan diwakili oleh rakyat yang menderita secara langsung maupun tidak Hukum Tuhan adalah Hukum yang abadi berlaku sepanjang jaman. Hukum sebab akibat siapa yang menanam baik positip maupun negatip dia akan menuainya cepat atau lambat. Hukum manusia yang disertai oleh kebiadaban dan kekejaman tidak bertahan lama, dan tidak mendapat keberkahan dari Tuhan. MERDEKA !! MERDEKA !!MERDEKA !! Lihat Politik Selengkapnya Agrivina Bertha Wainesa Rembuk Saturday, 10 Jun 2023, 1304 WIB Surat kabar hingga media massa yang kita konsumsi setiap hari sudah secara implisit memberi tahu bahwa tubuh kita masih jauh dari merdeka. Di depan mata kita seringkali berlalu lalang berita tentang pelecehan, kekerasan, bahkan bagaimana tubuh kita sendiri yang masih terjebak dalam balutan stigma dan tuntutan masyarakat patut membuat kita mempertanyakan, apakah sudah sepenuhnya tubuh kita merdeka? Di balik citra idealisasi dan kemajuan yang terlihat di permukaan, tubuh perempuan masih menjadi medan pertempuran yang tak terlihat dalam perjuangan menuju kesetaraan gender. Meskipun telah terjadi perubahan sosial yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir, kenyataannya adalah bahwa tubuh perempuan masih belum merdeka sepenuhnya. Dalam era di mana perkembangan teknologi dan pengetahuan semakin maju, banyak perempuan yang masih berjalan dengan belenggu kekerasan dan tuntutan sosial. Menurut Komnas Perempuan, tahun 2021 tercatat sebagai tahun dengan jumlah kasus Kekerasan Berbasis Gender KBG tertinggi, yakni meningkat 50% dibanding tahun 2020, sebanyak kasus. Tingginya angka kasus kekerasan yang dialami perempuan dan anak menunjukkan bahwa hal tersebut masih menahan kemerdekaan kita. Selama pandemi COVID-19 kasus kekerasan berbasis gender mengalami peningkatan hingga 75%. Ditambah fakta bahwa 56% kekerasan tersebut terjadi di rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang penuh rasa aman dan nyaman kini justru menjadi tempat yang mengancam. Terlebih tercatat bahwa tiga dari empat korban KBG mengenal pelaku kekerasan mereka, 27% dari mereka mengalami kekerasan yang dilakukan oleh pasanganya sendiri. Setelah pasangan, teman dan orang tua adalah pelaku KBG kedua dan ketiga paling banyak. Dapat kita simpulkan bahwa Indonesia darurat KBG dengan peningkatan kasus yang sangat drastis Adanya kompleksitas isu yang melingkupi tubuh perempuan yang “belum” merdeka, perjuangan untuk mencapai kemerdekaan tubuh harus terus berlanjut. Banyak orang di luar sana yang berjuang melawan dan menyuarakan perihal apa yang seharusnya didengar, banyak yang sudah berteriak tapi sedikit yang mau mendengar. Semua pihak seharusnya secara kolektif menghadapi norma dan ekspektasi tubuh kita serta menghentikan penindasan dan kekerasan yang kerap terjadi. Dengan mengedepankan pendidikan, kesadaran, dan perubahan sosial yang inklusif, kita dapat menciptakan lingkungan di mana kita memiliki kontrol atas tubuh kita sendiri. Bagaimanapun, tubuh kita berhak untuk merdeka, bila kiranya suara kita dibungkam oleh dunia, jangan pernah berhenti untuk menyuarakan atas apa yang seharusnya milik kita. perempuan tubuh merdeka kebebasan Disclaimer Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku UU Pers, UU ITE, dan KUHP. Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel. Berita Terkait Terpopuler di Rembuk Terpopuler Tulisan Terpilih Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. BENARKAH KITA SUDAH MERDEKA ?Tepat hari ini adalah hari kemerdekaan Negara kita yaitu Indonesia tercinta yang ke 68 tahun, juga bersamaan dengan hari ulang tahun putraku satu-satunya yang ke 16 tahun. Banyak slogan “Merdeka” bertebaran di mana-mana, membawa asumsi kita menilai bahwa sepertinya kita ini sudah benar-benar merdeka, tetapi sebetulnya apakah kita ini memang benar-benar merdeka lahir dan batin , jiwa dan roh?Ketika masih banyak orang yang buta huruf, maka orang berpikir bahwa bagi mereka yang buta huruf itu masih terjajah oleh kebodohan. Ketika orang masih menggunakan kehidupan yang sederhana, maka orang mengatakan bahwa mereka masih terjajah oleh kemiskinan. Dalam menilai segala sesuatu, standart atau patokan apakah yang masih dipakai untuk semua ini ? Di era globalisasi seperti sekarang inipun, banyak orang yang menggunakan penilaian kalau orang semakin modern akan semakin canggih dalam menggunakan IT akan semakin maju dan merdeka. Dari sudut pandang inilah, orang berbondong-bondong mempelajari dan menggunakan alat-alat canggih yang beredar dengan begitu banyak pilihan, mulai dari merk, fitur, dan dunia pendidikan dan bisnispun, banyak sekali slogan-slogan yang ingin mempengaruhi cara berpikir dan berusaha menarik mereka untuk bergabung menjadi seperti apa yang mereka inginkan, seperti “Financial freedom”. Siapa sih yang tidak tertarik untuk menjadi kaya ? pastilah semua orang menginginkan hal tersebut, karena memang itu kebutuhan untuk hidup di dunia ini. Tetapi segala sesuatu yang berlebihan, dan tidak di kelola dengan benar, maka justru membuka celah untuk yang tidak kita inginkan atau terduga masuk, dan tanpa sadar mempengaruhi ,menjerat ,yang pada akhirnya membawa kerusakan – dalam keseimbangan dalam segala hal , itulah yang akan melatih kita untuk tetap selalu mawas diri, tetapi tidak semua orang akan setuju ataupun memiliki kekuatan untuk melakukannnya. Tarikan-tarikan untuk terus melakukan apa yang dianggap benar dalam persepsinya dan keinginan-keinginan daging , nafsu dan penerimaan diri di tengah-tengah masyarakat akan terus bergolak dan berjuang di dalam jiwa dulu pahlawan-pahlawan kita bersatu dan berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan bagi bangsa dan Negara kita dari segala penjajah. Setelah mereka berhasil mengusir penjajah dan mendapatkan kemerdekaan, perjuangan berikutnya adalah bagaimana memajukan pendidikan, ekonomi dan mendirikan Negara kesatuan Republik Indonesia. Sekarang ini kita telah menikmati Negara yang jauh berubah dan berkembang di bandingkan dahulu, walaupun masih banyak orang menganggap Indonesia masih tertinggal cukup jauh dengan Negara-negara tetangga atau seasia. Saya pribadipun tetap menghargai para pejuang-pejuang yang telah rela berkorban sampai tetes darah penghabisan untuk mewujudkan Negara kesatuan Indonesia yang makmur ini, bagi kita yang dapat menikmati kemerdekaan Negara Indonesia tercinta,cobalah menengok ke dalam diri kita, apakah kita memang sudah sudah benar-benar merdeka di dalam cara berpikir ? di dalam gaya hidup sehari-hari ? di dalam menjaga kesatuan keluarga ? di dalam menghargai upaya orang-orang yang telah berjuang untuk membangun bangsa dan Negara ini, dengan meneruskannya di dalam tingkah laku kita sehari-hari mulai dari hal-hal yang kecil seperti disiplin diri,menjaga lingkungan tetap bersih, aman dan damai ?Memang untuk membangun tidak semudah untuk merusak ataumeruntuhkannya. Di dalam hal inilah perjuangan kita sesungguhnya ,untuk mendahulukan kepentingan-kepentingan orang lain daripada kepentingan-kepentingan pribadi kita. Inilah kemerdekaan kita, yaitu apabila kita dapat hidup dalam penguasaan diri,melakukan tugas dengan ikhlas,tanggung jawab dan menularkan sikap bijak kepada orang hidup di akhir zaman ini memang kita akan melewati masa yang sukar, di mana kasih akan orang semakin dingin karena kejahatan yang semakin bertambah, manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih,tidak memperdulikan agama,tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang,tidak dapat mengekang diri,garang,tidak suka yang baik,suka berkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menurut I Allah, walau secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kita sungguh-sungguh merdeka, berdirilah teguh di dalam iman dan kasih Tuhan, oleh Roh-Nya dan jangan mau lagi di kenakan kuk perhambaan. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh hari ini akan menjadi hari awal yang akan mengubahkan hidup kita di dalam kemerdekaan yang sesungguhnya, bukan hanya slogan ataupun bagian kulitnya. Lihat Catatan Selengkapnya Merdeka! Sudah 71 tahun negara kita terlepas dari belenggu penjajahan dan menjadi negara yang berdikari berdiri di atas kaki sendiri, red. Sudah tentu momen bersejarah ini dirayakan dengan penuh suka cita oleh seluruh rakyat melalui berbagai acara seperti perlombaan, pawai, upacara bendera, event diskon, dll. Tapi pernahkan kita berpikir apa sebenarnya makna dibalik hari kemerdekaan Indonesia dan bagaimana negara kita bisa merdeka seperti sekarang? Teman-teman yang sudah belajar sejarah pasti menjawab kemerdekaan adalah hasil dari perjuangan bersama para pahlawan, tokoh masyarakat, dan segenap rakyat tanah air. Apakah hanya sampai begitu lalu negara kita menjadi merdeka? Mereka, orang-orang Indonesia yang berkorban jiwa raga untuk kemerdekaan Indonesia, mesti memerdekakan diri dari rasa takut memegang senjata di medan perang, takut mati, takut kalah oleh pasukan musuh, takut negara kita nggak jadi merdeka. Mereka memerdekakan diri untuk berjuang menempuh cita-cita menghapuskan penjajahan dari negeri ini selama-lamanya sampai titik darah penghabisan. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah di negara yang merdeka ini kita masih terbelenggu sesuatu sehingga masih jauh dari kata merdeka? Jika iya, berikut adalah sebab-sebab dari hal tersebut 1. KemalasanSadar atau nggak, kita semua nggak pernah terhindar dari yang namanya rasa malas. Syukur sih kalau bisa menstimulasi diri sendiri untuk bangkit dan berjuang melawan si malas, tapi yang nurutin kan juga nggak sedikit jumlahnya. Bahkan ada beberapa jenis kemalasan yang udah jadi tren, sebut saja mager malas gerak, malas kerja, malas bikin tugas, malas masuk kelas. Ayo ngaku kalian pernah kan kayak gitu?Memiliki pikiran negatif atau tidak adanya motivasi dalam diri seseorang adalah penyebab seseorang merasa malas bahkan sebelum hal tersebut belum benar-benar dimulai. Namun, nggak jarang juga lingkungan yang malas membuat kita ikut menjadi malas. Oleh karena itu, salah satu cara untuk melawan kemalasan adalah merubah kebiasaan dan pola pikir negatif yang mendatangkan perasaan tersebut. Jadi jangan bilang ya kalau kemalasan nggak bisa Pikiran NegatifInilah akar dari segala akar mengapa manusia bisa melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Pikiran negatif sedikit banyak adalah penyebab dari penyakit yang menggerogoti tubuh manusia. Masyarakat modern memiliki tuntutan pekerjaan dan target yang tinggi sehingga lebih rentan terhadap berbagai masalah psikis dan nggak sedikit juga yang berakhir ada pikiran negatif dalam diri kita, ada baiknya untuk nggak terlalu diambil hati. Tarik napas dalam-dalam, banyak-banyak mengingat nama-Nya, ikhlaskan hal-hal buruk yang pernah terjadi, istirahatlah jika perlu. Lihatlah sisi baik yang ada dalam diri kita, jangan lupa untuk selalu berusaha memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam diri kita. Hidup ini terlalu indah untuk men-judge diri sendiri dan orang Bisikan SetanBukan berarti benar-benar ada setan lagi berbisik di telinga kita. Kita nggak pernah sadar kalau kita udah ngikutin bisikan setan sampai datanglah masanya merenung atau introspeksi ingat baik-baik berapa kali kita ngasih dan minta sontekan sama teman, malas ibadah, berbohong, jahilin teman buat sekadar asyik-asyikan, ngegosipin berita yang belum tentu kebenarannya. Masih mau ngelak kalau kita nggak pernah terpengaruh setan?4. UtangPaling nggak kita punya satu utang seumur hidup, mulai dari utang uang, qadha puasa, bahkan sampai utang budi juga ada. Kapan mau dilunasin? Jangan ditunda-tunda ya, apalagi sampai ditagihin terus sama yang punya utang 🙂5. MantanPaling tidak, kini sudah saatnya kamu untuk bangkit dari kenangan bersama si doi saat dulu melaju melangkah. “ “Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.” ” Jakarta - Apakah kita sudah merdeka. Mungkin jawaban ini seluruh orang bisa menjawabnya karena sudah diproklamirkan oleh Bapak Ploklamator kita. Secara tertulis memang kita sudah merdeka. Namun, secara realita kesehariannya kita masih belum 'merdeka'. Beberapa bukti kita belum merdeka secara utuh1. Kita masih belum bebas menggunakan Bahasa Indonesia di Negara sendiri. Dengan bukti banyaknya perusahaan asing yang berdiri di Indonesia mewajibkan semua pekerja yang akan dan berkerja di perusahaan tersebut menggunakan Bahasa Asing. Seharusnya Indonesia mengatur mereka bukan mereka mengatur Indonesia. Semestinya pemerintah bisa menerapkan peraturan semua usaha yang berdiri atas modal asing di Indonesia diwajibkan menggunakan Bahasa Indonesia. Ini merupakan suatu bukti kita masih terjajah. Kita tidak bebas menggunakan Bahasa Indonesia di negara Kita masih terjajah secara ekonomi. Ini dilihat dari sistem perdagangan kita. Barang atau sumber daya alam yang nomor 1 satu diekspor ke luar negri. Kualitas nomor 2 dua itu yang dikonsumsi oleh Indonesia. Bagaimana kita akan menjadi masyakat yang sehat, cerdas, kalau yang dimakan yang kualitas jelek. Pepatah yang cocok buat negeri ini adalah 'ayam mati di lumbung padi'. Kita memiliki semuanya tapi kita tidak bisa menikmatinya. Pemerintah bukan lagi pengayom masyarakat tapi preman pasar yang sedang meminta upeti kepada masyarakat. Jadi apa bedanya. Dulu kita dijajah bangsa asing, dan sekarang dijajah oleh bangsa sendiri. Apakah ini yang dinamakan merdeka. Salah satu akibat dari persoalan di atasa. Banyaknya pengangguran di mana mereka terhalang dengan namanya Bahasa Asing yang tidak memenuhi syarat. Kita bisa berguru ke Negeri Sakura di mana mereka menerapkan bahasa mereka dalam berbagai aspek kehidupan dalam Banyaknya para pencari kerja mengharapkan bisa menjadi PNS. Karena, itulah satu-satunya pekerjaan yang tidak meminta syarat banyak. Banyak hal lagi yang tidak saya sampaikan dalam tulisan ini. Mungkin suatu saat pemerintah kita bisa menyelesaikan semua permasalah yang melanda bangsa Taman Brawijaya III Jakarta 08197544812 msh/msh

apakah kita sudah merdeka