Mengapakau terasa begitu jauh saat ku ingin kau disampingku Mengapa tidak tergapai tanganmu saat ku ingin kau memelukku Mama, kau yang akan selalu di hati ini Dalam keadaan tertentu aku membutuhkan seseorang selain jasad nyawaku, tapi aku selalu menganggap mereka tidak pandai menjadi apa yang aku butuhkan.
Ah begitu jadinya. Itu masuk akal. Jika kita fokus pada perbedaan antara mata pelajaran yang kita kuasai dan tidak dikuasai, itu mengubah pertanyaan dari 'Aku tidak tahu apakah ini benar atau salah' menjadi 'Aku tidak tahu apakah ini cara yang tepat untuk menjawabnya'. Bahkan jika kamu tidak tahu jawabannya, jika itu pelajaran yang kamu kuasai
Akupun ragu, apakah bisa melalui nya lebih baik, atau minimal sejalan. Berat, jika dijadikan bebas. Aku harus pandai agar aku bisa melahirkan anak yang pandai. Tawamu masih begitu jelas dalam ingatanku. Kebaikanmu telah terpatri dalam diri ini.
akunggak mengerti apa yang teman2ku bilang tentang pergaulan mereka. aku tidak mengerti kenapa mereka membenciku. apakah aku terlalu aneh karena memandang semua orang itu baik. apakah aku aneh berusaha membaut temanku bahagia. apakah aku aneh karena sering tanpa sengaja melontarkan apa yang ada di pikiranku. apakah aku aneh karena tidak
Lantas kita pun mulai memandang jauh ke depan. Bercita-cita segera menjadi orang dewasa, sehingga kita tidak lagi diatur-atur lagi. Sekarang aku sudah di sini. Menapaki setiap momen dalam kehidupan yang dulu kita idam-idamkan. Merasakan rasanya dianggap oranng dewasa, yang mana pendapatnya selalu didengarkan.
Menyambutpenayangan perdana Street Man Fighter bulan Agustus ini, ketiga juri dan MC program tersebut pun membagikan pendapat dan juga persiapan mereka bersama dengan majalah 1st Look.. Kang Daniel selaku MC terpilih program Street Man Fighter pun membagikan persiapan yang tengah ia lakukan. "Di antara para kontestan kali ini, banyak
. Description / Non Fiksi / Mengapa Aku Begitu Pandai Friedrich Nietzsche +++ Serial Buku Kecil Ide Besar menghadirkan gagasan-gagasan besar yang mengguncang atau unik dan autentik dari para penulis terbaik dunia. Pikiran-pikiran mereka bergema panjang, dan menginspirasi generasi demi generasi di pelbagai masa. Kami sajikan dalam format buku kecil yang ciamik, yang mudah dibawa ke mana-mana, dan bisa dibaca dalam dua atau tiga kali duduk di stasiun atau di bandara atau di mana pun. Dalam buku tipis ini kita akan menemukan Nietzsche yang bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya dalam narasi-narasi sastrawi, dilanjutkan dengan aforisme-aforisme yang menjadi ciri khasnya deret proposisi padat yang berpotensi menimbulkan pertanyaan panjang dalam imajinasi pembaca, proposisi-proposisi yang mengutip Milan Kundera, merupakan salah satu dari enam karya yang lahir pada masa kematangan Nietzsche.
HomeBukuLainnyaAtur jumlah dan catatanMengapa Aku Begitu PandaiKondisi BaruMin. Pemesanan 1 BuahEtalase Non FiksiSerial Buku Kecil Ide Besar menghadirkan gagasan-gagasan besar yang mengguncang atau unik dan autentik dari para penulis terbaik dunia. Pikiran-pikiran mereka bergema panjang, dan menginspirasi generasi demi generasi di pelbagai masa. Kami sajikan dalam format buku kecil yang ciamik, yang mudah dibawa ke mana-mana, dan bisa dibaca dalam dua atau tiga kali duduk di stasiun atau di bandara atau di mana buku tipis ini kita akan menemukan Nietzsche yang bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya dalam narasi-narasi sastrawi, dilanjutkan dengan aforisme-aforisme yang menjadi ciri khasnya deret proposisi padat yang berpotensi menimbulkan pertanyaan panjang dalam imajinasi pembaca, proposisi-proposisi yang mengutip Milan Kundera, merupakan salah satu dari enam karya yang lahir pada masa kematangan masalah dengan produk ini?ULASAN PEMBELI
Matias Damasio É o fim parece mentira mas e verdade pois para mim era bom que nĂŁo fosse realidade 2X Terminar e tĂŁo ruim porque que tem que ser assim acabar para amanha chorar e nĂŁo quero mas voltar a amar 2X Porque que tudo tem que ter um fim queria ser surdo para nĂŁo te ouvir dizer adeus dizer adeus adeus adeus adeus volta ao inicio na segunda vez continua E as promessas q fizemos os filhos q nĂŁo tivemos a casa que nĂŁo construĂmos como eu vou fazer eu quero saber para onde vĂŁo os sonhos para onde vĂŁo os sonhos volta a segunda estrofe Composição -
Belum lama ini aku berdiri di jembatan itu di malam berwarna cokelat. Dari kejauhan terdengar sebuah lagu Setetes emas, ia mengembang Memenuhi permukaan yang bergetar. Gondola, cahaya, musik— mabuk ia berenang ke kemurungan … jiwaku, instrumen berdawai, dijamah tangan tak kasatmata menyanyi untuk dirinya sendiri menjawab lagu gondola, dan bergetar karena kebahagiaan berkelap-kelip. —Adakah yang mendengarkan? dalam Ecce Homo Kepandaian Nietzsche dikatakan Setyo Wibowo, seorang pakar Nitzsche, bukanlah hal mudah. Ia menyebut kepandaian Nietzsche berkorelasi dengan rasa kasihannya kepada orang-orang. Nietzsche khawatir jika ada orang mengetahui kepandaiannya berarti betapa sengsaranya orang itu. Orang yang memahami pemikiran Nietzche berarti selevel dengan dirinya. Berarti mengalami betapa getirnya pengalaman hidup Nietzsche yang berat dan kelam. Bagi Nietzsche pemikirannya bukan untuk diketahui. Biarlah ia sendiri yang paham tentang gagasannya, dirinya sendiri. Dengan begitu cukup ia yang menanggung sengsara. Tapi, jika ada orang yang berani masuk lebih jauh ke dalam pemikirannya, dan berusaha memahami sepenuhnya, maka betapa kasihannya orang itu. Kata Nietzsche, ia –orang itu—sama beratnya dengan dirinya. Sama pedihnya dengan Nietzsche. Bukankah setiap pemikiran dituliskan demi diketahui khalayak? Bukankah setiap gagasan si pemikir memiliki maksud mencerahkan pembacanya? Lalu dalam kasus Nietzsche untuk apa pikiran-pikirannya ia tulis? Bukankah setidak-tidaknya itu berarti ada sesuatu yang ia ingin sampaikan? Ada pesan yang ingin ia ungkapkan? Paradoks memang. Lama saya mengetahui penjelasan Setyo Wibowo di atas. Nietzsche bukanlah filsuf biasa. Ia filsuf cum sastrawan. Ia pemikir dan perasa sekaligus. Dari kacamata ini, saya pelan-pelan mengerti, membaca pemikiran Nietszche berarti sekaligus memahami dirinya. Ikut –jika memungkinkan—setidaknya sebagian perjalanan hidupnya. Itu berarti ikut menjiwai apa-apa yang ia alami selama hidupnya. Itulah sebabnya, pendekatan untuk memahami Nietzsche agak berbeda dengan pemikir lainnya. Jika pemikir lainnya cukup kita mengetahui aspek biografis dengan cara membacanya, dengan Nietzche tidak cukup hanya itu. Kita –setidaknya bagi saya—dituntut untuk ikut menyelami dunia pengalaman-perasaan dirinya. Sejenis praktik hermeunetik. Dari situlah kita akhirnya berisiko seperti dikatakan Setyo Wibowo di atas. Harus rela merasakan bagaimana beratnya pengalaman hidup Nietzsche. Pemikiran yang mendarahdaging dengan aspek-aspek perasaannya, atau perasaan yang beruratakar dengan pikirannya. Mengerti pemikirannya juga mesti merasakan pergulatan batinnya. Menurut saya dengan cara itulah kita bisa menyerap inti sari gagasan Nietzsche yang rumit dan berlapis-lapis itu. Nietzsche adalah filsuf dengan kehidupan yang terputus-putus. Melalui buku Gaya Filsafat Nietzsche, Romo Setyo Wibowo menyebutnya keterputusan-keterputusan relasi. Pengalaman hidup ini ditandai dengan cara hidup Nietzsche yang nomaden. Ia hidup selayaknya seorang pengembara, dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah bermukim lama. Kata Romo Setyo dalam buku yang sama, keterputusan yang paling fundamental dialami Nietzche adalah perpisahannya dengan iman kristiani. Keterputusan ini kontan membuatnya terpisah dari tradisi kristiani yang dirawat oleh keluarga besarnya. Kedua, dia putus dengan tempatnya mengabdikan diri sebagai dosen; Universitas. Sebagai seorang filolog ia ditolak lantaran terlalu filosofis dalam menerapkan pendekatan filologis. Terputusnya dari universitas sekaligus menjauhkannya dari komunitas intelektual pada waktu itu. Ketiga, lantaran kesehatannya yang memburuk, membuat Nistzsche terputus dari kehidupan normal. Ia mesti menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari orang sehat. Bahkan untuk memenuhi kebutuhannya menghirup udara, ia mesti mencari tempat yang cocok bagi dirinya. Keempat, konsekuensi dari cara hidupnya yang nomaden, secara afeksi membuatnya jauh dari lingkungan pergaulan. Pola hidup yang nomaden membuat ia tak mampu memiliki relasi pertemanan yang bertahan lama. Lebih dari itu, bahkan untuk membina keluarga pun sulit karena cara hidup yang demikian tak menentu. Berkat cara hidupnya ini Nietzsche menjadi filsuf soliter. Ia menjadi pribadi unik yang ditempa kesendirian. Bahkan sebelum masuk masa kegilaannya, ia sudah didera penyakit yang pelan-pelan menggerogoti tubuhnya dari dalam. Dahsyatnya, dan inilah yang membuatnya sebagai pribadi unggul. Dalam keadaan sakit itulah ia justru produktif secara pemikiran dan intuitif. Banyak melahirkan karya-karya monumental melalui penghayatannya secara kontemplatif. Mengapa Aku Begitu Pandai adalah sebuah solikokui yang demikian panjang dari Nietzsche untuk Nietzsche. Dia bertanya kemudian dijawabnya dengan cara sendiri dan dari pikirannya yang demikian origin. Ibarat cermin, Nietzsche dengan cara ini sedang menguji seberapa mungkinkah ia mampu menemukan ”jawaban-jawaban” dari dirinya sendiri. ”Bagaimana mencukupi kebutuhan makan dirimu sendiri untuk mencapai puncak kekuatanmu, mencapai virtŠdalam gaya Renaisans, kebajikan bebas moralin?” Virtu adalah keutamaan yang diandaikan Nietzsche sebagai ciri khas manusia. Namun, walaupun begitu ia mesti ditemukan di dalam pencarian yang kadang demikian sulit. Kadang manusia terjebak ke dalam pragmatisme dengan mengidefixkan pakem-pakem nilai agar kehidupan menjadi lebih praktis dan mudah. Ideologi, agama, moral, filsafat, sains, politik, dan pakem-pakem semacamnya adalah idefix yang ditolak Nietzsche karena terlalu mengkerdilkan kehidupan. Virtu harusnya selaras dengan esensi kehidupan yang sebenarnya chaos. Bukan berhenti di dalam nilai-nilai yang diidealisasi dan melihat dunia dalam keadaan harmoni dan tetap. Dunia adalah suatu kemenjadian tanpa ujung. Manusia harus menggunakan virtunya agar dapat ikut menjadi. Berkata “ya” kepada dunia yang terus bergerak. Dengan kata lain, di dalam dunia yang bergerak, “kedisinian” adalah satu-satunya kenyataan yang menopang diri. Esok dan masa lalu hanyalah idealisasi yang tidak memiliki dasar eksistensi sama sekali. Manusia mesti mencitai nasibnya sendiri. Di sini dan sekarang. ”Rumusanku bagi kebesaran dalam seseorang manusia adalah amor fati bahwa orang tidak menginginkan menjadi selain seperti saat ini, bukan di masa depan, bukan di masa lalu, bukan dalam seluruh kekekalan. Bukan hanya menanggung apa yang terjadi karena keharusan, apalagi membuyarkannya—semua idealisme adalah ketidakbenaran di hadapan keharusan—melainkan untuk mencintainya…” Akhir kata, membaca teks-teks Nietzsche ibarat berhadapan dengan sebuah labirin. Banyak kelolakan dan jalan buntu yang sulit ditaklukkan. Itulah sebabnya, dengan nada khas selfishnya, ia mengatakan “Mengapa Aku Begitu Pandai?”
Recent CommentsDamar on Negeri Di Bawah Kabut Pemutaran Film & DiskusiSekar Langit on Membicarakan Kafka on the Shoreramona on Membicarakan Kafka on the ShoreRandom PostJEUNE "Lucid Dreams Issue" Release Party! at Rumah BukuJEUNE 26 Dream Issue Release Party “Enjoy Your Lucid Dream! – an Art, Music, and…Read More CategoriesCategories Product Categories
mengapa aku begitu pandai